“Kerja 16 jam sehari, tidur di coworking space, pitching sambil ngutang, dan bangga cerita ‘dulu gue tidur di lantai’.”
Kalau kamu masih percaya itu esensi dari jadi founder, mungkin kita perlu ngobrol lebih dalam — atau setidaknya tarik napas dan lihat sekitar.
Di luar sana, banyak founder yang diam-diam membangun bisnis sehat, tanpa drama, tanpa war cry ala hustle. Mereka gak viral di Twitter, tapi brand-nya bertahan 5-10 tahun. Mereka gak sibuk ngejar funding tiap minggu, tapi bisa gaji tim tetap dan tumbuh pelan-pelan.
Startup bukan jalan ninja. Ini bukan anime. Dan bukan juga pelarian dari realita kerja kantoran dan biar keren kerjanya apa “founder”. Menjadi founder bukan lagi gaya-gayaan, toh pada akhirnya yang akan dibuktikan adalah seberapa lama bertahan bisnis itu diperedaran dan seberapa banyak masyarakat yang terbantu dengan “ke-founderan itu”. Founder itu bukan jabatan, title dia adalah sebuah misi hidup, selama kamu mendirikan sesuatu dan punya visi, misi dan langkah nyata kedepan yang bermanfaat baik secara economical ataupun lainnya, ya kamu adalah founder.
Tapi terkadang memang tidak bisa dipungkiri, trend majemuk yang menciptakan hype bahwa startup founder dengan ide gila-gilaan menarik media untuk meliputnya, tidak hanya itu dunia meng-kultuskan tentang kegilaan itu, padahal kita belum tahu bagaimana 6 tahun kedepan, apakah bisnisnya masih hidup? nah, terkadang orang lupa akan itu, gimmick boleh tapi validasi, market real, customer setia tetep jadi rajanya sebuah bisnis untuk bisa hidup sepanjang masa, bahkan bisa jadi warisan.
Bisnis startup sudah tidak jaman lagi, gimmick lalu bubar 3 bulan kedepan, bukan jaman lagi nyari investor baru bisa jalan, kalau mindset diawalnya seperti itu itu bukan bikin bisnis, itu memang niat cari investor aja. The real business dan entrepreneur memulai dari apa yang ada, ada tidaknya investor bisnis tetap punya hitungan dan kalkulasi untung ruginya, ya misalnya diawal rugi-kebentur sana sini itu sudah lumrah, semua pebisnis pernah mengalami hal itu, jadi nikmatilah prosesnya jangan langsung instan.
Kadang, Ekosistem startup di Indonesia (dan mungkin dunia) terlalu sering meng-glorifikasi kegilaan. Seolah-olah makin sengsara, makin layak disebut “founder sejati”.
Padahal membangun startup itu soal:
-
Menciptakan nilai,
-
Menyusun sistem yang sustainable,
-
Dan punya keberanian buat bilang “enggak” saat semua orang bilang “ya”.
Realita Yang Jarang Dibicarakan
-
Funding bukan prestasi — Itu tool. Kadang solusi, kadang jebakan.
-
Exit bukan tujuan semua orang — Ada yang cukup dengan hidup dari revenue.
-
Burnout itu nyata — dan bukan hal yang bisa kamu romantisasi pakai kopi dan hoodie.
Startup bukan untuk semua orang — dan itu bukan hal buruk.
Kalau kamu merasa nggak cocok dengan dunia yang penuh jargon, FOMO, dan drama validasi sosial ini, mungkin kamu bukan gagal. Mungkin kamu waras.
Karena yang paling keren bukan yang paling bising, tapi yang bisa bangun sesuatu yang bertahan lama, bahkan bisnis tetap berjalan sekalipun foundernya tidak ada.

